Makan Gaplek Sepanjang Tahun, Minggu Besok Rumahnya Dibedah

Standard

MERASAKAN enaknya makan nasi, rupanya jarang dinikmati pasutri I Nyoman Bingin – Ni Nyoman Nermi serta pasutri Nengah Sari – Ni Luh Suka. Dua KK miskin dari Banjar Batudawa Kaja, Tulamben, Kubu, Karangasem itu sehari-hari hanya makan gaplek.
Kehidupan keluarga miskin yang patani ini, hanya potret sebagian kecil dari gemerlap pariwisata Bali dengan pertumbuhan ekonominya yang melebihi rata-rata nasional. Sebab, di banyak tempat masih ”tersembunyi” KK miskin yang tidak pernah merasakan kemajuan Bali.
Keprihatinan kedua KK miskin rupanya mendapatkan perhatian Wakil Gubernur (Wagub) Bali Puspayoga. Bersama Bali TV, rumah keduanya akan dibedah mulai Minggu (29/7) besok. ”Rumah kedua warga kami akan mendapat bedah rumah dari dompet wirasa Bali TV dan Wagub Puspayoga,” kata Bendesa Pakraman Batudawa I Gede Siden saat meninjau lokasi bedah rumah bagi kedua KK warganya itu, Jumat (27/7) kemarin. Kedua warga itu hanya memiliki gubuk reyot dan sudah tak lagi teduh bila hujan.
Kepada Bali Post, I Nyoman Bingin maupun I Nengah Sari menyatakan selama ini hidupnya sangat melarat. Bayangkan, sepanjang tahun ia hanya menanak gaplek — ketela pohon yang sudah kering. Keduanya mengaku jarang membeli beras untuk nasi, karena tak memiliiki uang.
Sekali dalam satu tahun warga setempat biasa memanen ketela pohon. Ketela pohon dicacah (dipotong kecil-kecil) dan dijemur di atas batu di sungai. Saat cacah sudah kering dipungut dan dimasukkan ke dalam kantong bekas pembungkus beras. Kalau panen ketela pohon bagus bisa mendapatkan berkisar lima kampil gaplek. Gaplek itu dicukupkan untuk memenuhi kebutuhannya selama setahun sampai panen ketela pohon tahun berikutnya.
Uang yang didapat dari maburuh ia simpan untuk persediaan membeli air di musim kemarau. ”Satu belek air berisi sekitar 6 liter harganya Rp 1.000. Pada musim kemarau, kata Sari, sehari bisa menghabiskan 8 belek air, selain untuk minum dan memasak juga untuk minum empat ekor sapinya,” ujarnya.
Ketua kelompok masyarakat setempat, Wayan Putra, mengatakan Minggu (29/7) besok direncanakan sudah dimulai bedah rumah. Di mana, warga tetangga KK miskin yang mendapatkan bedah rumah bekerja bergotong-royong. Saat ini kedua KK yang mendapatkan bantuan bedah rumah itu sudah siap dengan bahan bangunan berupa batu dan pasir yang dicari dari sekitar rumah dan sungai yang ada di dekat wilayah permukiman mereka. ”Mereka sudah siap batu dan pasirnya. Warga di sekitarnya kita harapkan bekerja bergotong-royong saling bantu,” ujar Wayan Putra. (013)

About goeswid

saya orang klungkung yang selalu ingin mencoba dan mencoba untuk mengisi diri, namun tetap masih ketinggalannnnnnn

Comments are closed.