Pemlapasan Pura di Jerman Sedot Perhatian Warga

Standard

Prosesi pemlapasan atau penyucian pura Tri Hita Karana di Garten der Welt (Taman Dunia) Marzan, Berlin, menyedot perhatian seribuan warga setempat. Pemplapasan rumah suci ini dipimpin langsung oleh pendeta dari Bali. 
 Seluruh rangkaian prosesi ini terealisasi berkat kerja keras wadah masyarakat Bali di Berlin dan sekitarnya, Nyama Braya Bali, yang didukung sepenuhnya oleh KBRI Berlin, demikian Sekretaris III- Penerangan, Sosial dan Budaya Purno Widodo dalam keterangan pers kepada detikcom (7/5/2012). 
Dinginnya udara Berlin yang hanya sekitar 12C saja ternyata tak menyurutkan minat warga Jerman untuk menyaksikan prosesi penyucian, yang dimeriahkan dengan drama tari Calon Arang dan berbagai tarian Bali lainnya oleh mahasiswa dari Universitas Hindu Indonesia.

Dalam cuaca mendung tersebut tak kurang dari seribuan orang berdesakan ingin melihat dari posisi terdepan bagaimana cerita terjalin dalam dialog dan gerakan tari memikat diiringi gamelan Bali yang dinamis nan mistis itu, Sabtu (5/5/2012). 
Jadilah taman seluas 30 hektar Garten der Welt ini tenggelam dalam nuansa serba Bali, ditingkah dentang lonceng magis Bali dan aroma mistis spiritual dari dupa menggelayut di atmosfir taman tersebut. Warna-warni busana tradisional Bali juga menambah semarak jalannya prosesi. 
Manager Garten der Welt Beate Reuber menyatakan kegembiraan luar biasa dengan penyelenggaraan prosesi pemlapasan dan drama tari Calon Arang, yang merupakan bagian dari Balinese Temple Fest dalam rangka merayakan ulang tahun ke-25 taman tersebut. 
“Hari ini Nyama Braya Bali telah berhasil menarik warga Jerman untuk melihat dan mempelajari lebih terperinci berbagai wawasan berharga tentang Bali. Ini pengalaman luar biasa, tidak saja bagi saya tetapi juga masyarakat Jerman pengunjung taman ini,” ujar Reuber. 
Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman dalam sambutan yang dibacakan oleh Kuasa Usaha ad Interim (KUAI) Diah Rubianto menyambut baik acara yang juga bagian dari diplomasi untuk memperkokoh pondasi persahabatan masyarakat Indonesia-Jerman yang berbeda latar belakang budaya. 
Menurut Dubes, tepat 60 tahun lalu Indonesia-Jerman resmi mengikat diri dalam hubungan diplomatik dan membangun jembatan untuk mempromosikan saling pengertian dan mengembangkan semangat kerjasama. 
“Dan kini saya merasa sangat gembira bahwa langkah tersebut membuahkan hasil dengan dilangsungkannya acara budaya seperti yang disaksikan hari ini, demikian Dubes. 
Sejalan dengan Reuber, Dubes juga menyampaikan bahwa prosesi penyucian pura di taman Garten der Welt tersebut telah membuka dimensi baru mengenai budaya Bali dan keberadaan budaya Indonesia di Jerman. 
“Suatu penghormatan tak terhingga, bukan saja untuk masyarakat Bali di Jerman, tetapi Indonesia secara keseluruhan mengingat hal ini merupakan manifestasi dari keragaman agama dan budaya Indonesia, yang telah menjadi aset Indonesia paling bernilai,” pungkas Dubes. 
Dua tahun lamanya acara ini dipersiapkan, terutama mencari tempat untuk prosesi ritual agama Hindu yang dipandang layak di Berlin, sebelum akhirnya kesepakatan dicapai dengan pengelola taman Garten der Welt. 
Dengan bantuan Kementerian Agama RI dan Pemerintah Daerah Bali, selanjutnya didatangkan seorang pendeta dari Bali untuk memimpin prosesi penyucian, 61 mahasiswa Universitas Hindu Indonesia, termasuk juga berbagai material bangunan pura dari batu, yang biasa disebut Padmasana. 
Sebelumnya berbagai tarian Bali seperti tari Kebyar Duduk, Jauk Manis hingga Legong Keraton juga mendapat sambutan meriah dari pengunjung. Tarian sama dua hari sebelumnya juga sukses dipentaskan di Museum Etnologi Berlin. 
Sementara itu pura Tri Hita Karana di dalam Garten der Welt sesuai kesepakatan kedua belah pihak kini diperluas fungsinya sebagai tempat peribadatan masyarakat Bali di Jerman, selain juga untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia.

About goeswid

saya orang klungkung yang selalu ingin mencoba dan mencoba untuk mengisi diri, namun tetap masih ketinggalannnnnnn

Comments are closed.