Mencari Makna “Sugihan Bali” lan “Sugihan Jawa”

Standard


Menurut Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., Wakil Ketua I Parisada Bali, membicarakan makna filosofis hari sugihan tidak bisa dipisah-pisahkan dengan hari lainnya yang masih merupakan rangkaian hari raya Galungan dan Kuningan. Rangkaian perayaan yang sudah dimulai sejak 25 hari sebelum Galungan tepatnya pada Saniscara Kliwon wuku Wariga atau yang lebih dikenal dengan Tumpek Wariga. Pada saat ini umat mengaturkan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Sangkara. Dalam pengider bhuwana letaknya di Pucak Mangu. Umat pada Tumpek Wariga (Tumpek Pengatag) ini melakukan komunikasi dengan penguasa tumbuh-tumbuhan. Adapun tumbuh-tumbuhan yang diutamakan adalah yang menghasilkan bahan-bahan yang bisa digunakan sebagai sesaji persembahan untuk hari raya Galungan dan Kuningan. Dalam peng-aci-aci-nya, umat memohon dengan jelas kepada penguasa tumbuh-tumbuhan untuk melimpahkan buah-buahan yang akan digunakan pada saat Galungan.

 

Secara filosofi, kata Sudiana yang juga dosen STAHN Denpasar ini, dari perayaan Tumpek Wariga sesungguhnya umat Hindu diharapkan untuk mempersiapkan pelaksanaan hari raya Galungan dan Kuningan dengan niat dan pikiran yang suci. ”Mulai Tumpek Wariga ini umat Hindu menjalani pendakian spiritualnya untuk menyambut perayaan Galungan dan Kuningan,” kata Sudiana.

Pendakian spiritual umat Hindu tersebut makin menjalani tahap yang lebih tinggi saat mendekati hari raya Galungan. Karena itu, pada Wraspati Wage dan Sukra Kliwon wuku Sungsang yang lebih dikenal dengan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, umat Hindu mulai melakukan pembersihan-pembersihan di sejumlah tempat suci.

Dalam pandangan Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Bali I Gusti Made Ngurah, makna dan filosofi kedua sugihan tersebut adalah sebagai pembersihan makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (manusia) secara sekala maupun niskala. ”Sugihan Jawa merupakan pembersihan secara sekala, sementara Sugihan Bali merupakan pembersihan secara niskala,” kata Ngurah.

Sudiana lebih melihat perbedaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali dari alam yang disucikan. Pada Sugihan Jawa, kata Sudiana, lebih menekankan pada pembersihan makrokosmos atau alam semesta. Pembersihan ini secara sekala dilakukan dengan membersihkan palinggih atau tempat-tempat suci yang digunakan sebagai tempat pemujaan. Ia mengatakan, dalam istilah Balinya sering disebut dengan ngererata atau mabulung yakni pekerjaan merabas atau mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar palinggih,” kata Sudiana.

Sementara secara niskala juga dilakukan pembersihan dengan jalan mengaturkan upacara banten pengerebuan dan prayasita sebagai lambang penyucian. Semua itu diaturkan kepada Ida Batara, para leluhur dan para dewa yang berstana di masing-masing palinggih atau pura. Diyakini pada saat Sugihan Jawa ini, para dewa akan turun diiringi dengan para luluhur untuk menerima persembahan.

Simbol Pembersihan Alam

Keesekokan harinya, tepatnya Sukra Kliwon wuku Sungsang atau sering disebut dengan Sugihan Bali, kata Sudiana, merupakan simbol dari pembersihan alam mikrokosmos. Pada saat ini umat melakukan tirta gocara atau tirta yatra yakni dengan pergi ke samudera — sumber mata air atau bisa di palinggih atau merajan yang ada di masing-masing rumah. Ia mengatakan, dalam praktik yoga umat Hindu pada hari ini melakukan yoga semadi yang ditujukan untuk mulat sarira. Menyambut hari raya Galungan, umat seharusnya memiliki kesucian batin dengan menahan diri dari segala macam godaan indria. Hal inilah yang menjadi penekanan dalam kaitannya pelaksanaan ritual Sugihan Bali.

Dikatakan, Sugihan Jawa dan Sugihan Bali jika dilihat dari konsepnya menyiapkan umat Hindu menghadapi berbagai gempuran dan godaan duniawai yang datang menjelang hari raya Galungan. ”Pada kedua sugihan ini, kekuatan rwa bhinneda diupayakan berada pada titik keseimbangan untuk menuju pada ketenangan dan kedamaian,” kata Sudiana.

Kembali pada persoalan sesaji yang biasanya diaturkan pada saat sugihan. Dalam praktik di beberapa tempat terutama di daerah Denpasar, banten pangerebuan ini biasanya disertai dengan persembahan ayam, bebek atau babi guling. Hal ini sebenarnya hanya merupakan bentuk dari tradisi. Apabila ditinjau dari segi sastra, hal itu tidaklah mutlak. ”Artinya, tradisi ini bisa diubah, kalau memang keyakinan untuk mengubahnya sudah cukup besar,” kata Ngurah seraya menambahkan, apabila umat tidak memiliki keyakinan untuk mengubahnya, hal tersebut akan tetap dijalankan.

Selain itu, umat Hindu yang merayakan Sugihan Bali berbeda dengan mereka yang melaksanakan Sugihan Jawa. Perbedaan ini, menurut Sudiana, semata-mata karena adanya tradisi yang sudah berlaku secara turun-temurun. Selain itu, juga disesuaikan dengan desa kala patra. ”Adanya perbedaan ini juga dikaitkan dengan kedatangan Dhanghyang Astapaka dan Dhanghyang Nirarta ke Bali,” kata Sudiana. Ia menambahkan, di sinilah sangat berperan metode untuk meyakinkan umat Hindu di Bali.

Di kalangan umat Hindu juga berkembang pemikiran, bahwa umat yang melaksanakan Sugihan Jawa adalah umat Hindu yang keturunan Majapahit. Sementara yang terkait dengan Sugihan Bali adalah mereka yang dari keturunan Bali asli. Kenyataan ini dibenarkan oleh Ngurah.

Ia mengatakan, adanya pembagian umat Hindu dalam melaksanakan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali terkait dengan faktor historis. ”Mereka yang dari keturunan Majapahit melaksanakan Sugihan Jawa dan yang asli Bali melaksanakan Sugihan Bali,” kata Ngurah.

Namun, kalau dikembalikan kepada makna dan filosofi sugihan itu, kata Sudiana, hendaknya umat Hindu di Bali melaksanakan kedua sugihan tersebut. Hanya, perbedaan pada kesemarakkan pelaksanaan dari salah satu sugihan yang sudah dilakukan secara turun-temurun memang sangat sulit dihilangkan. Artinya, kebiasaan umat Hindu untuk melaksanakan Sugihan Jawa dengan mengaturkan upacara pengerebuan misalnya, tetap dijalankan sebagaimana mestinya.

Adanya perbedaan pelaksanaan masing-masing sugihan oleh dua kelompok berbeda, menurut Ngurah, adalah bentuk penghargaan terhadap perbedaan yang ada. Sementara Sudiana memandang hal ini sebagai bentuk betapa luwes dan fleksibelnya agama Hindu itu sendiri. Yang paling penting tentunya pemahaman yang mendasar di kalangan umat tentang makna sesungguhnya dari sugihan itu sendiri.

 

2 responses

  1. Pingback: Praba Nyoba Ngeblog

    • terima kasih atas pujiannya, smg lain kali bs memberikan masukan utk kemajuannya…..