Memaknai Hari Raya Siwaratri 14 January 2010

Standard

PERAYAAN Siwaratri identik dengan melaksanakan
1. monobrata (tidak berbicara)
2. upawasa (puasa)
3. jagra (begadang)

Tak hanya itu, kisah Lubdaka pun sering dijadikan flash back perayaan Siwaratri. Bagi kebanyakan orang, Siwaratri sering dianggap malam penebusan dosa. Padahal sebenarnya tidak begitu. Istilah yang mungkin lebih tepat adalah malam perenungan dan mohon ampunan.
Perbuatan kita dalam perjalanan hidup banyak yang keliru, maka saat Siwaratri-lah kita renungkan semua apa yang telah kita lakukan sekaligus introspeksi dan pembenahan. Siwaratri juga harus dilihat sebagai latihan peningkatan moral sehingga kita akan selalu ingat dengan Tuhan dan rajin berdoa.
Secara umum Siwaratri bermakna memberi keseimbangan jiwa pada diri seseorang. Dengan selalu melatih bidang kerohanian kita, niscaya apa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari akan seimbang. ”Seimbang dalam artian tidak hanya wacana, tetapi juga realisasinya,”.

TANGGAL 14 Januari 2010, Wraspati Paing Prangbakat, umat Hindu di Indonesia umumnya dan di Bali khususnya merayakan hari raya keagamaan yang disebut hari Siwaratri atau sering juga disebut Siwalatri.  Hari raya Siwaratri ini untuk mengingatkan umat Hindu agar selalu meningkatkan kesadaran rohaninya dalam menghadapi dinamika kehidupan yang penuh dengan gejolak. Upawasa, jagra dan mona adalah suatu metode yang diajarkan oleh ajaran Siwaratri untuk membangun kesadaran diri. Orang yang memiliki kesadaran diri itulah yang akan dapat mengurangi bahkan menghindar dari perbuatan dosa, meskipun tahap demi tahap.
Upawasa untuk melatih nafsu untuk tidak rakus.
Jagra maksudnya agar setiap langkah dalam berperilaku didasarkan pada kesadaran budhi. Kesadaran budhi itulah yang akan berperan memberikan berbagai pertimbangan sebelum melangkah dalam berperilaku.
Mona bertujuan untuk melatih lidah tidak berbicara sembarangan.
Sarasamuscaya mengajarkan hendaknya diusahakan agar dari lidah itu tidak keluar empat jenis kata-kata.
Empat jenis ucapan yang tidak boleh keluar dari lidah adalah:
1. ujar ahala
2. ujar pisuna
3. ujar mitya
4. ujar apergas

Artinya ucapan yang harus dihindari adalah ucapan yang mengandung maksud jahat, fitnah, bohong dan kasar. Hal itulah yang dilatih dengan mona.
Hari raya Siwaratri bertujuan untuk mengingatkan umat Hindu agar senantiasa melakukan upawasa, jagra, dan mona sebagai kegiatan untuk membangun kesadaran diri.
Manusia sering digelapkan hatinya oleh hawa nafsunya yang bergelora. Kemajuan duniawi tanpa diimbangi oleh kemajuan rohani sering membawa manusia lupa akan hakikat jati dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling utama penghuni bumi ini. Kekayaan, kekuasaan, kepandaian, kekuatan fisik atau juga kesaktian, kebangsawanan yang diperoleh sering menjadikan manusia kehilangan kesadaran dirinya yang sejati. Namun, manusia akan disebut manusia utama kalau kekayaan, kekuasaan, kepandaian, kebangsawanan, kesaktian dan kekuatannya itu dilandasi oleh rohani yang tinggi. Manusia memiliki kelebihan kalau dibandingkan dengan makhluk lainnya.
Manusia mampu mengubah berbagai kekurangan maupun kesalahannya kalau ia mau mendayagunakan agama dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Karena itu, manusia jahat sekalipun, kalau ia mampu membangkitkan kesadaran dirinya akan dapat mengubah sifat jahatnya menjadi manusia baik dan suci.
Siwaratri artinya malam Siwa. Umat Hindu diingatkan untuk mengembangkan kesadaran dirinya. Hakikat ajaran Siwaratri adalah untuk mengingatkan manusia agar selalu percaya pada Tuhan (Siwa). Manusia akan selalu dapat menghalau kegelapan hatinya dengan cara selalu percaya dan takwa pada Tuhan (Siwa).
Perayaan Siwaratri ini untuk mengingatkan umat untuk lebih menekankan pada cara beragama ke dalam diri. Beragama Hindu penekanannya ada dua arah yaitu:
1. Prawrti Marga, beragama keluar diri seperti mengutamakan pelayanan dan pengabdian pada alam dan sesama manusia sebagai wujud bakti pada Tuhan.
2. Niwrti Marga adalah beragama yang lebih menekankan pada cara penghayatan diri demi perbaikan ke dalam diri sendiri.
Kedua jalan ini sama-sama penting untuk diseimbangkan pelaksanaannya. Tidak mungkin kita melakukan pelayanan pada alam dan sesama kalau dalam diri kita masih rapuh. Diri yang kuat lahir batin akan termotivasi untuk mengabdi pada sesama dan alam. Karena dalam keadaan alam yang lestari dan kehidupan bersama yang solid kita bisa hidup dengan aman, damai dan sejahtera.
Semoga hari raya Siwaratri ini menjadi tonggak untuk meningkatkan kesadaran diri kita sebagai umat beragama terus semakin cerah dan terarah menuju kehidupan yang penuh anugerah.
http://www.balipost .co.id/balipostc etak/2007/ 1/17/o1.htm

Tatacara Pelaksanaan Upacara Siwaratri
1. Pengertian.
Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Hari
Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat manusia, karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga. Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan
kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri, pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa, dalam usaha menimbulkan kesadaran diri (atutur ikang atma ri
jatinya). Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa upawasa, monabrata dan jagra. Siwarâtri juga disebut hari suci pajagran.
2. Waktu Pelaksanaan.
Siwarâtri jatuh pada hari Catur Dasi Krsna paksa bulan Magha (panglong ping 14 sasih Kapitu).
3. Brata Siwarâtri.
Brata Siwarâtri terdiri dari:
1. Utama, melaksanakan:
1. Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara).
2. Upawasa (tidak makan dan tidak minum).
3. Jagra (berjaga, tidak tidur).
2. Madhya, melaksanakan:
1. Upawasa.
2. Jagra.
3. Nista, hanya melaksanakan:
Jagra.
4. Tata cara melaksanakan Upacara Siwarâtri.
1. Untuk Sang Sadhaka sesuai dengan dharmaning kawikon.
2. Untuk Walaka, didahului dengan melaksanakan sucilaksana (mapaheningan) pada pagi hari panglong ping 14 sasih Kapitu. Upacara dimulai pada hari menjelang malam dengan urutan sebagai berikut:
1. Maprayascita sebagai pembersihan pikiran dan batin.
2. Ngaturang banten pajati di Sanggar Surya disertai persembahyangan ke hadapan Sang Hyang Surya, mohon kesaksian- Nya.
3. Sembahyang ke hadapan leluhur yang telah sidha dewata mohon bantuan dan tuntunannya.
4. Ngaturang banten pajati ke hadapan Sang Hyang Siwa. Banten ditempatkan pada Sanggar Tutuan atau Palinggih Padma atau dapat pula pada Piasan di Pamerajan atau Sanggah. Kalau semuanya tidak ada, dapat pula diletakkan pada suatu tempat di halaman terbuka yang dipandang wajar serta diikuti sembahyang yang ditujukan kepada:
– Sang Hyang Siwa.
– Dewa Samodaya.
Setelah sembahyang dilanjutkan dengan nunas tirta pakuluh. Terakhir adalah masegeh di bawah di hadapan Sanggar Surya. Rangkaian upacara Siwarâtri, ditutup dengan melaksanakan dana punia.
5. Sementara proses itu berlangsung agar tetap mentaati upowasa dan jagra.
Upawasa berlangsung dan pagi hari pada panglong ping 14 sasih Kapitu sampai dengan besok paginya (24 jam).
Setelah itu sampai malam (12 jam) sudah bisa makan nasi putih berisi garam dan minum air putih.
Jagra yang dimulai sejak panglong ping 14 berakhir besok harinya jam 18.00 (36 jam).
6. Persembahyangan seperti tersebut dalam nomor 4 di atas, dilakukan tiga kali, yaitu pada hari menjelang malam panglong ping 14 sasih Kapitu, pada tengah malam dan besoknya menjelang pagi.

http://www.babadbal i.com/canangsari /hkt-hari- siwaratri- pelaks.htm
Sumber Foto: http://www.baliwww. com

Brata Siwa Ratri Pada Tilem Kepitu dan Cerita Lubdaka
Dari kalangan para peminat spiritual, cerita Lubdaka itu diterjemahkan sebagai berikut : Jika seseorang sudah mampu membunuh sifat kebinatangannya, maka timbullah rasa ingin dekat dengan Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Rasa keinginan atau hasrat (kerinduan) itu diwujudkan dengan berbagai cara (berjapam/mengulang -ngulang nama suci Tuhan), beryajna dan sebagainya.
Hal ini dilukiskan oleh Lubdaka yang memetik daun-daun Bila, dan mengenai Lingga Sang Hyang Siwa di telaga. Diistilahkan dengan seseorang yang sedang berjapam. Arwah Lubdaka menjadi rebutan, namun kemudian Siwa sendiri yang menyelamatkannya. Ini adalah suatu kiasan, bahwa betapapun besar dosa seseorang, jika sudah mohon ampun kehadapan –Nya serta insaf maka kesalahan itu akan diampuni oleh-Nya.
Hari suci Tilem datangnya tiap bulan, tapi mengapa tilem Kepitu mempunyai keistimewaan tersendiri. Untuk itu mari kita simak keutamaan brata Siwaratri yang tercantum dalam “Padma Purana” dituangkan dalam percakapan antara seorang Maha Rsi, yaitu Wasistha dengan seorang Raja yang bernama Dilipa. Kutipannya sebagai berikut :
“Dengarkanlah Paduka, saya akan menjelaskan kepada Anda tentang Brata Malam Siwa yang sangat utama, satu-satunya sarana untuk mencapai Siwaloka. Hari keempat belas paruh gelap bulan Magha atau Palguna, patut diketahui sebagai Malam Siwa (Siwaratri), yang menghapuskan segala papa.
Anugerah itu paduka, tidak didapatkan dengan tapa, dana, japa, semadhi, tidak juga dengan upacara dan sebagainya. Brata Malam Siwa paduka, adalah yang paling utama diantara segala brata, bagi Meru diantara Gunung, Matahari diantara segala yang bercahaya, Pertapa diantara mahluk berkaki dua, dan Kapila diantara mahluk berkaki empat, Gayatri diantara mantra, Amerta diantara segala yang cair, Wisnu diantara laki-laki dan Arundhati diantara wanita”.
Banyak kalangan yang kurang setuju, jikalau malam Siwaratri sebagai malam penebusan dosa. Karena kepercayaan Hindu, hukum karma itu tidak pandang bulu. Meskipun orang suci, jika berbuat salah tetap akan mendapat hukuman. Reaksi dari perbuatan itu sulit untuk dihapus, maka dari itu ada beberapa pakar yang menyatakan tidak setuju jika malam Siwaratri diistilahkan sebagai malam peleburan dosa.

Umumnya Siwaratri dilaksanakan dengan laku brata :
Mona Brata (pengendalian dalam kata-kata). Mona brata sering diistilahkan dengan tidak mengucapkan kata-kata sepatahpun. Sehingga hal seperti ini bisa menimbulkan kesalah-pahaman. Karena jika seorang teman sedang bertandang kerumah dan menyapa atau bertanya, tapi yang ditanya tidak menyahut, menyebabkan orang menjadi tersinggung. Maunya melakukan tapa mona brata, justru malah melakukan himsa karma, karena membuat orang lain menjadi jengkel dan sakti hati. Kalaupun punya niat tapa brata semacam itu, sebaiknya pergi ke hutan atau ketempat yang sunyi, jauh dari keramaian.
Upawasa yaitu pengendalian dalam hal makan dan minum. Jadi disini ditekankan tidak diharuskan untuk berpuasa/tidak makan dan minum semalam suntuk. Melainkan pengendalian dalam hal makan dan minum. Umat dibebaskan untuk melaksanakan bratanya, mau puasa ya silahkan, tidakpun tidak apa-apa. Hanya saja brata itu berlaku untuk seterusnya.
Jagra yaitu pengendalian tidur atau dalam keadaan jaga semalam suntuk hingga menjelang pagi disertai melakukan pemujaan kepada Siwa sebagai pelebur kepapaan. Jadi pada malam Siwaratri itu yang terpenting adalah begadang demi dia (Siwa). Bukan begadang main gaple atau nonton TV. Pada keesokan harinya melaksanakan Darma Santhi, pergi saling menungjungi kerumah sahabat, handai toland sambil bermaaf-maafan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Malam Siwaratri bukanlah malam peleburan dosa, melainkan peleburan kepapaan dari kelemahan sifat-sifat manusia. Semua manusia memiliki kepapaan, karena dibelengu oleh nafsu-nafsu indrianya/raganya.
Itulah sebabnya sangat dianjurkan untuk melaksanakan brata Siwaratri pada Tilem Kepitu yaitu sehari menjelang Tilem Kepitu. Yang tujuannya semata-mata untuk mengurangi kepapaan dari nafsu-nafsu indria yang dimiliki oleh umat manusia.
Terutama sekali yang berupa 7 (tujuh) kegelapan yang disebut dengan Sapta Timira (tujuh macam kemabukan). Diantaranya adalah,
1. Surupa (mabuk karena rupawan/rupa tampan atau cantik),
2. Dhana (mabuk karena kekayaan),
3. Guna (mabuk karena kepandaian),
4. Kasuran (mabuk karena kemegahan),
5. kulina (mabuk karena keturunan bangsawan),
6. Yowana (mabuk karena keremajaan),
7. Sura (mabuk karena minuman keras).

Ternyata bukan minuman keras saja yang menyebabkan seseorang menjadi mabuk, melainkan juga ke enam keberuntungan itu. Jika tidak hati-hati membawa dan menjaga keberuntungan itu, justru membuat seseorang menjadi sombong dan terjerumuslah dia kedalam kegelapan.
Makna hari suci Siwaratri adalah untuk menyadari bahwa seseorang berada dalam pengaruh kegelapan. Kegelapan itulah yang harus diterangi, baik jiwa, pikiran maupun badan jasmaninya. Kegelapan itu harus disingkirkan dengan ilmu pengetahuan rohani.
Yang paling penting sekali adalah berkat dari Sang Hyang Siwa sendiri. Beliaulah yang akan menghapus kepapaan, ketidak berdayaan melawan hawa nafsunya sendiri. Mungkin ribuan orang akan menyoraki dan mencaci maki seorang penjahat yang mendapat hukuman. Bahkan pula dilempari dengan batu. Namun beliau (Sang Hyang Sada Siwa) menangis melihat umat-Nya dalam kesengsaraan. Beliau tidak membenci malah lebih bersimpati pada mereka yang mengalami nasib buruk seperti itu.
Itulah keutamaan beliau, tidak membenci siapapun, walaupun penjahat kelas kakap yang dibenci jutaan manusia. Beliau tetap berbelas kasih. Bersedia mengampuni, asal umat-Nya dengan tulus iklas berserah diri, pasrah total kehadapan-Nya.
Beliau sendiri yang akan mebimbing dan memutuskan keadilan-Nya. Maka sangat dianjurkan untuk melaksanakan brata Siwaratri ini kepada siapa saja. Karena pintu tobat dan pengampunan pada hari itu terbuka lebar-lebar.
Ada lagi disebutkan keutamaan brata Siwaratri dalam lontar “Siwaratrikalpa” buah karya Mpu Tanakung, bahwa jika seseorang mampu melaksanakan laku ; upawasa, mona brata dan jagra pada hari itu, yang tujuannya memuja Sang Hyang Sada Siwa, serta memohon pengampunan- Nya maka dosanya akan terhapus.
Kelihatannya kok gampang dan mudah sekali ya ? Belum tentu ! Melaksanakan salah satu dari brata itupun sangat sulit, apalagi ketiganya sekaligus. Meskipun cuma satu hari satu malam, wah sulitnya minta ampun.
Dan beliau (Mpu Tanakung) juga mengisyaratkan bahwa brata Siwaratri melebihi semua jenis yajna. Untuk itulah, seseorang jangan berputus asa jika sudah terlanjur melakukan kesalahan. Karena Siwaratri bisa dilaksanakan dimana saja (di rumah, di Pura, di tempat sunyi, bahkan di Lembaga Pemasyarakatan / Penjara). Justru disinilah mungkin ( di Lemaga Pemasyarakatan) brata Siwaratri itu dilaksanakan lebih khusuk.
Apa tujuannya Monabrata, upawasa dan mejagra. Pada dasarnya, laku-laku tapa brata adalah untuk pengendalian diri (mengekang hawa nafsu). Atau dengan kata lain membiasakan berkata dan bertingkah laku yang baik.
Monobrata maksudnya adalah mengubah kebiasaan dari suka berkata-kata kasar, memaki, memfitnah, membicarakan keburukan orang, menjadi senang berkata-kata yang lemah lembut, membicarakan kebaikan orang lain, senang mengagungkan nama Tuhan.
Monobrata pada hari suci Siwaratri diarahkan untuk mengucapkan nama Tuhan didalam lubuk hati secara terus menerus, misalnya ;
“Om Namah Siwa Ya, Om Namah Siwa Ya,…. Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya. . .dan seterusnya.
Ada kebiasaan umat yang membawa tasbih atau genitri. Ada juga yang tidak membawa apa-apa. Yang penting adalah nilai kekhusukannya.
Tapa monobrata tujuannya adalah sangat luhur dan mulia, terutama sekali untuk mengekang nafsu marah dan angkara murka. Sebab kata-kata yang kasar bisa melukai perasaan orang lain sampai bertahun-tahun.
Maka orang yang dikuasai oleh nafsu murkanya, tak dapat tidak niscaya ia melakukan perbuatan jahat, sampai akhirnya dapat membunuh guru, dan sanggup ia membakar hati seorang saleh, yaitu menyerang dia dengan kata-kata yang kasar.
Tambahan pula orang yang dikuasai oleh nafsu murka, sekali-kali tidak tahu akan perkataan yang keliru dan yang benar, sekali-kali mereka tidak mengenal perbuatan yang terlarang dan yang menyalahi dharma serta sanggup mereka mengatakan sesuatu yang tidak layak untuk dikatakan.
Maka monobrata diusahakan sekali untuk dilaksanakan meski tidak hanya pada hari Suci Siwaratri saja. Karena begitu besar manfaatnya, bagi pembentukan sifat dan karakter seseorang. Hakekatnya yang disebut nafsu murka, adalah musuh didalam diri kita ; jika ada orang yang dapat menghilangkan nafsu murka itu, maka ia pun akan disegani, dipuji dan dihormati selama ia ada di dunia.
Kemudian laku upawasa yaitu berpuasa tidak makan dan minum adalah untuk menunjang jalannya brata monobrata. Supaya konsentrasi seseorang yang menjalankan laku ini tidak pecah. Mengistirahatkan kerja usus, lambung dan kerongkongan serta mulut pada hari suci itu, untuk tujuan pemujaan. Berpuasa secara fisik dan mental menjadikan tujuan itu terpusat kesatu arah. Apalagi disertai dengan japam (pengulangan mantra), sehingga meditasi itu menjadi khusuk.
Mejagra yaitu begadang semalam suntuk, dalam tradisi India ada diistilahkan dengan “Akanda Bhajan”. Yaitu mengidungkan nama-nama suci Tuhan selama 24 jam secara terus menerus, sambung menyambung.
Begitupun halnya dengan mejagra, begadang semalam suntuk sambil mengidungkan nama-Nya di dalam hati secara terus menerus. Makna dari mejagra ini adalah, agar seseorang senantiasa terjaga selama hidupnya, dengan kata lain tidak lupa diri (mabuk) tidak dikuasai oleh 7 (tujuh) nafsu kemabukan itu.
Oleh Adang Suprapto
http://www.parisswe ethome.com/ bali/cultural_ my.php?id= 14

About goeswid

saya orang klungkung yang selalu ingin mencoba dan mencoba untuk mengisi diri, namun tetap masih ketinggalannnnnnn

Comments are closed.