WIWAHA

Standard

wiwaha merupakan istilah dalam agama Hindu yang berarti perkawinan. Dalam masyarakat Hindu Wiwaha memiliki arti dan kedudukan yang sangat penting dalam rangka melestarikan dan menerapkan ajaran weda. Sebab tujuan utama dari wiwaha adalah untuk melanjutkan keturunan yang saputra sebagai generasi penerus untuk melanjutkan ajaran weda.

dalam negara RI masalah perkawinan diatur dalam undang-undang No. 1 Tahun 1974. PP No. 9 Tahun 1975, PP No. 10 Tahun 1983 dan PP No. 45 Tahun 1990. menurut undang-undang No.1 Tahun 1974 pasal 1 disebutkan perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria sengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Berdasarkan definisi ini jelas bahwa perkawinan mempunyai hubungan yang erat dengan agama. Lebih-lebih ditegaskan lagi dalam UU No. 1 tahun 1974 pasal 2 sebagai berikut : perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya.

Di dalam ajaran agama Hindu perkawinan tersebut baru dipandang sah jika telah melaksanakan ritual yaitu upacara wiwaha, minimal upacara pekalan-kalan (byakala). dalam upacara pekalan-kalan ini terkandung Tri Upasaksi yang terdiri dari :

  1. Dewa Saksi yaitu saksi dewa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa)
  2. Bhuta saksi yaitu saksi bhuta kala
  3. Manusa saksi yaitu saksi manusia (perangkat desa sampai ke catatan sipil

Dengan adanya tiga saksi inilah yang menyebabkan perkawinan tersebut menjadi sah baik secara agama maupun secara hukum
Upacara wiwaha dibagi menjadi dua tahap yaitu:

  • Tahap pertama adalah upacara Byakala/pekalan-kalan yang berfungsi untuk mengesahkan perkawinan dan menyucikan sukla dan swanita calon mempelai.
  • Tahap kedua adalah upacara Mapajati/mejauman yang lebih bermakna menentukan status salah satu mempelai

Upacara tahap pertama tidak boleh ditunda mengingat begitu pentingnya fungsi dari upacara terebut. sedangkan upacara tahap kedua boleh ditunda sesuai dengan situasi dan kondisi seseorang. dala upacara byakala/pekalan-kalan terdapat beberapa sarana prasarana yang mengandung arti simbolis seperti sarana : tikeh dadakan, kala sepetan, tegen-tegenan, sok pedagangan dan tetimpug.
kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang Grhastha (orang yang berumah tangga) adalah sebagai berikut:

  • membina rumah tangga
  • melanjutkan keturunan
  • bermasyarakat
  • melaksanakan panca yadnya

menurut ajaran agama seseorang baru boleh melaksanakan wiwaha bila telah cukup umur yaitu pria berumur 21 tahun dan wanita berumur 18 tahun serta kedua calon mempelai sudah beragama Hindu. dalam kitab Manawa Dharmasastra dijelaskan delapan sistem perkawinan yaitu : Brahma Wiwaha, Diwa wiwaha, Arsa wiwaha, Prajapati wiwaha, Asura wiwaha, Gandarwa wiwaha, Paisaca wiwaha dan Raksasa wiwaha. sedangkan menurut tradisi adat di bali terdapat beberapa sistem perkawinan yaitu Memadik, Ngerorod, Nyentana, Ngunggahin dan Melegandang.

About goeswid

saya orang klungkung yang selalu ingin mencoba dan mencoba untuk mengisi diri, namun tetap masih ketinggalannnnnnn

Comments are closed.