Memaknai Hari Raya Tumpek Wayang

Standard


TUMPEK Wayang (yang jatuh pada hari Sabtu wuku Wayang 6 Februari 2010) merupakan hari istimewa bagi umat Hindu di Bali. Jika ada bayi lahir tepat pada hari itu, konon memiliki sifat-sifat ataupun bakat istimewa baik negatif maupun positif. Menurut salah satu kalender Bali, orang yang lahir pada wuku Wayang memiliki sifat suka disanjung, perintahnya tak bisa dibantah. Namun, ia juga memiliki pribadi yang halus, pandai bergaul, tutur bahasanya halus dan menarik. Apakah pernyataan itu benar, tentu saja jawabannya beragam. Pasalnya, di atas bumi ini, ribuan bahkan mungkin jutaan orang yang lahir pada Tumpek Wayang dipastikan memiliki sifat yang berbeda, tergantung pada kepercayaan, kultur, bakat, lingkungan dan faktor lainnya. Bagi umat Hindu di Bali, ada keyakinan bahwa anak yang lahir pada Tumpek Wayang memiliki sifat-sifat negatif karena hari itu dianggap memiliki nilai cemer (kotor) yang membawa sial. Anak tersebut dikhawatirkan dirundung malapetaka, akibat dikejar-kejar Dewa Kala. Menurut lontar “Sapuh Leger”, Dewa Siwa memberi izin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak yang dilahirkan pada Wuku Wayang. Untuk memusnahkan sifat-sifat negatif pada anak tersebut serta menghindari bahaya akibat dikejar-kejar Dewa Kala, maka ada solusi yang merupakan keyakinan pula, yakni mohon tirta (air suci) penglukatan atau pengruwatan dari pertunjukan Wayang Sapuh Leger. Apakah semua itu bisa dipercaya seratus persen? Oleh karena hal ini masalah keyakinan, tentu sulit dijawab dengan pasti. Namun yang jelas, Wayang Sapuh Leger ternyata juga menarik perhatian orang asing. Dalam buku ini ada dikemukakan, pada tahun 2005, seorang warga Prancis menanggap Wayang Sapuh Leger untuk upacara kelahiran putranya. Upacara yang digelar di rumah mertuanya di Baturiti, Tabanan, itu berlangsung khidmat. Apakah ia menanggap Wayang Sapuh Leger hanya untuk jor-joran ataukah memang ia yakin bahwa pertunjukan itu dapat menyelamatkan anaknya? Oleh karena hal ini masalah yang bersifat irasional, maka sulit dijawab dengan mengemukakan argumenatasi secara rasional. Timbul juga pertanyaan: mengapa Wayang Sapuh Leger yang konon dianggap angker, dan penyelenggaraannya paling berat, sangat mempengaruhi pola pikir umat Hindu di Bali? Menurut penyusun buku ini, I Dewa Ketut Wicaksana, tidak banyak orang yang menaruh perhatian untuk membuktikan serta mencari jawaban atas penyebabnya. Kenyataan seperti itu, menurut Wicaksana, hanya diterima begitu saja, tanpa tergelitik untuk menelusuri lebih jauh, untuk menemukan apa yang terjadi di balik konsep penyelenggaraan drama ritual tersebut. Itulah sebabnya, ia tertarik untuk menelusuri, selain ingin mengetahui apa sebenarnya yang ada di balik pertunjukan Wayang Sapuh Leger, juga ingin mengkaji fungsi dan makna pertunjukan wayang tersebut dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Bali.


Dari Tesis
Penelitian Wicaksana tertuang dalam tesis yang dipertahankan di hadapan penguji Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada 1997. Tesis itulah yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku seperti ini, setelah mengalami proses editing seperlunya terutama pada masalah teknis.
Secara garis besar, buku ini terdiri dari lima bab. Bab pertama, Wicaksana menuliskan tentang latar belakang masalah, mengapa ia tertarik meneliti pertunjukan Wayang Sapuh Leger. Sebagaimana penulisan tesis pada umumnya, dalam bab ini, Wicaksana menyodorkan sejumlah teori yang digunakan untuk menjawab permasalahan. Dalam bab berikutnya, Wicaksana mengungkap tentang genre Wayang Sapuh Leger dalam Wayang Kulit Bali, apa latar belakang dan bagaimana struktur pertunjukan tersebut. Dalam bab ini juga dikemukakan upacara lukatan yang meliputi sesajen, mantram-mantram yang dicantingkan dalam upacara tersebut, pelaku upacara, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan dalang dan Dharma Pedalangan. Dalam bab selanjutnya, Wicaksana mengungkap struktur estetik pertunjukan Wayang Sapuh Leger, dan pada bab empat, ia menganalisis fungsi dan makna pertunjukan seni sakral tersebut bagi kehidupan masyarakat Bali. Buku ini juga dilengkapi dengan lampiran mantram-mantram yang berkaitan dengan pementasan wayang. Menurut Wicaksana dalam buku ini, secara eksplisit pertunjukan Wayang Sapuh Leger hanya berfungsi untuk upacara dalam siklus kehidupan manusia. Namun secara implisit, pertunjukan ini menyiratkan adanya upacara Panca Yadnya yakni Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya. Foto-foto yang ditampilkan dalam buku ini meliputi pertunjukan wayang kulit Sapuh Leger, bentuk-bentuk sesajen yang digunakan, dan ada lima dalang yang ditampilkan. Mereka itu empat dalang dari Gianyar yaitu dalang I Wayan Wija, I Made Sija, I Gusti Putu Darta, I Wayan Narta dan satu dalang dari Buduk (Badung) yakni Ida Bagus Puja. Penampilan dalang tersebut dalam gambar lebih banyak terlihat sedang melakukan upacara ritual. Buku ini tidak saja penting disimak bagi peminat budaya, ilmuwan (peneliti), tapi juga bagi umum terutama bagi mereka yang ingin menekuni dunia pedalangan. Sayang, buku ini dicetak hitam putih, sehingga foto yang ditampilkan belum memberikan gambaran yang maksimal. Jika fotonya dicetak berwarna, serta lebih banyak menampilkan foto wayang Bali, buku ini tentu saja akan lebih afdol.

* wayan supartha
http://www.balipost .co.id/balipostc etak/2008/ 4/27/bud2. html
ADA sebuah fenomena menarik di Bali berkenaan tentang kelahiran anak pada hari yang dianggap keramat yaitu pada waktu wuku Wayang. Fenomena tersebut diyakini oleh orang Bali bahwa yang dilahirkan pada hari tersebut patutlah diupacarai lukatan besar yang disebut sapuh leger. Bagi anak yang diupacarai lahir bertepatan dengan waktu itu dimaksudkan supaya ia terhindar dari gangguan (buruan) Dewa Kala. Menurut lontar Sapuh Leger dan Dewa Kala, Batara Siwa memberi izin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak/orang yang dilahirkan pada wuku Wayang (cf. Gedong Kirtya, Va. 645). Atas dasar isi lontar tersebut, apabila diantara anaknya ada yang dilahirkan pada wuku Wayang, demi keselamatan anaknya itu, semeton Bali berusaha mengupacarainya dengan didahului mementaskan Wayang Sapuh Leger berikut aparatusnya dipersiapkan jauh lebih banyak (berat) dari perlengkapan sesajen jenis wayang lainnya.Menurut sistem perhitungan wuku, satu siklus lamanya 210 hari, karena tiap wuku lamanya 7 hari (Saptawara) dikalikan banyaknya wuku yang berjumlah 30 jenis. Satu bulan wuku lamanya 35 hari, dan setiap akhir bulan wuku itu disebut tumpek. Sehingga ada 6 jenis tumpek yaitu Tumpek Landep, Tumpek Pengarah, Tumpek Krulut, Tumpek Kuningan, Tumpek Kandang, dan Tumpek Wayang. Perhitungan Saptawara kemudian dikombinasikan pula dengan Pancawara (lima hari) dan setiap tumpek adalah jatuh pada Kliwon. Makanya, Tumpek Kliwon dirayakan secara besar di seluruh Bali, seperti Tumpek Kliwon Kuningan yang merupakan rentetan hari raya Galungan, dan diakhiri dengan Tumpek Kliwon Wayang.Tiap anak yang lahir pada Tumpek Wayang, terutama pada Saniscara Kliwon Tumpek Wayang akan diadakan pergelaran Wayang Sapuh Leger. Kedudukan hari-hari tersebut secara spasial sangat sakral karena merupakan rentetan terakhir dari tumpek yang menurut anggapan orang Bali adalah angker dan berbahaya, karena hari itu dikuasai oleh butha dan kala. Secara mitologis wuku Wayang dianggap sebagai salah satu wuku yang tercemar/kotor, karena pada waktu inilah lahirnya seorang raksasa bernama Dewa Kala sebagai akibat pertemuan (sex relation) yang tidak wajar antara Batara Siwa dan istrinya, Dewi Uma. Mereka melakukan tidak pada tempatnya yang disebut kama salah. Dari karakteristik hari-hari tersebut, masyarakat Bali percaya bahwa setiap anak yang lahir pada wuku Wayang harus mendapatkan penyucian yang khusus dengan upacara sapuh leger serta menggelar wayang. Pertunjukan wayang kulit yang ada sampai saat ini kenyataannya tidak dapat dilepaskan dengan upacara ritual dengan cerita mitologi. Hal ini dikisahkan karena isinya dianggap bertuah dan berguna bagi kehidupan lahir dan batin yang dipercayai serta dijunjung tinggi oleh pendukungnya. Hipotesis yang menguatkan tentang latar belakang upacara nyapuh leger dengan media wayang kulit pada Tumpek Wayang adalah data sastra dalam naskah lontar. Salah satunya lontar Kala Purana berbunyi: ”… Muwah binuru sang Pancakumara; katekang ratri masa ning tengah wengi. Hana dalang angwayang, nemoning tumpek wayang, sang anama Mpu Leger. Sampun angrepakena wayang, saha juru redep/ gender/nya, wus pada tinabeh, merdu swaranya, manis arum….”. Artinya, setelah dikejar sang Pancakumara oleh Dewa Kala, sampai menjelang tengah malam ada seorang pria/dalang bernama Mpu Leger mempertunjukkan wayang pada waktu Tumpek Wayang. Setelah menghadap di depan kelir segera juru gender membunyikan gamelannya, suaranya merdu dan nyaring…. Gelar Wayang Sapuh Leger pada saat Tumpek Wayang bersifat religius, magis, dan spiritual, yang berhubungan dengan wawasan mitologis, kosmologis, dan arkhais, sehingga memunculkan simbol-simbol yang bermakna bagi penghayatan dan pemahaman budaya masyarakat Bali. Simbol-simbol tersebut terungkap baik lewat lakon, sajian artistik, fungsi, sarana, dan prasarana yang digunakan. Sedangkan maknanya mengendap dan menjadikan sistem nilai budaya yang berfungsi sebagai pedoman tinggi bagi kelakuan manusia Bali. Dalam konteks ritual, Wayang Sapuh Leger berfungsi sebagai pemurnian (furikasi) bagi anak/orang yang lahir pada hari yang oleh orang Bali dianggap berbahaya yaitu pada wuku Wayang, sehingga ia berfungsi sebagai pengukuhan atau pengesahan dari bentuk ritual keagamaan dan institusi-institusi sosial budaya masyarakat Bali. Karena salah satu perwujudan dari sistem religi mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas komunitasnya. Tumpek Wayang juga bermakna ”hari kesenian” karena hari itu secara ritual diupacarai (kelahiran) berbagai jenis kesenian seperti wayang, barong, rangda, topeng, dan segala jenis gamelan. Aktivitas ritual tersebut sebagai bentuk rasa syukur terhadap Sang Hyang Taksu sering disimboliskan dengan upacara kesenian wayang kulit, karena ia mengandung berbagai unsur seni atau teater total. Dalam kesenian ini, semua eksistensi dan esensi kesenian sudah tercakup. Tumpek Wayang dan drama ritual wayang diamati dari aspek filosofinya, berorientasi temporal, spasial dan spiritual. Secara temporal pertunjukan Wayang Sapuh Leger diselenggarakan pada saat-saat tertentu yaitu pada Tumpek Wayang, sehingga mitologi sapuh leger mengharuskan masyarakat Hindu di Bali percaya bahwa dilarang bepergian pada tengai tepet (tengah hari), sandyakala (sore hari), dan tengah lemeng (tengah malam). Oleh karena diyakini waktu-waktu tersebut adalah waktu transisi yang sering mengancam keamanan seseorang saat melakukan perjalanan. Tumpek Wayang itu sendiri merupakan tumpukan dari waktu-waktu transisi dan hari itu jatuh pada Sabtu/Saniscara Kajeng Kliwon, Wayang. Saniscara merupakan hari terakhir dalam perhitungan Saptawara; Kajeng adalah hari terakhir dalam perhitungan Triwara; dan Kliwon merupakan hari terakhir dalam perhitungan Pancawara. Sedangkan Tumpek Wayang adalah tumpek terakhir dari urutan enam tumpek yang ada dalam siklus kalender pawukon Bali. Dengan demikian dapat disimpulkan, Tumpek Wayang menjadi hari yang penuh dengan waktu-waktu peralihan, dan oleh karenanya anak-anak yang lahir pada saat ini ditakdirkan menderita karena mengalami gangguan emosi dan menyusahkan orang lain. Untuk melawan akibat keadaan yang tidak menguntungkan itu, orang Bali melakukan upacara ”penebusan dosa khusus” yang dinamakan lukatan sapuh leger, dengan harapan Hyang Widhi akan menganugerahkan nasib baik pada anak itu dan menjamin bahwa hari ”lahir yang tidak baik” itu tidak akan berpengaruh buruk pada perkembangan selanjutnya. Kata ”kala” secara etimologi berarti waktu, ketika, saat, zaman. Jadi Batara Kala artinya dewa waktu atau penguasa waktu. Dari asal-usul etimologi tersebut, dapat disimpulkan bahwa mitos sapuh leger mengandung ajaran, petunjuk, dan pesan yang berdimensi temporal, yakni hendaknyalah orang dapat menguasai waktunya (sendiri) dan tidak membuang-buang waktu untuk perbuatan yang tak ada manfaatnya bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat luas. Mengatur waktu dengan sebaik-baiknya, niscaya akan besar sekali mengaruhnya bagi keselamatan dan kesejahteraan. Amanat yang terkandung dalamnya adalah bersifat korektif berupa peringatan kepada umat manusia untuk menghargai waktu (kala), dan mewaspadai pertemuan ”transisi” dua kutub, akibatnya membawa pengaruh positif maupun negatif. Pengaruh positif apabila dua komunitas terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna, komunikasi akan berjalan baik. Apabila sebaliknya, akan terjadi miskomunikasi yang bisa berdampak negatif.

* I Dewa Ketut Wicaksana, SPP., H.Hum.,
dosen pedalangan STSI Denpasar
http://www.iloveblu e.com/bali_ gaul_funky/ jepret/detail/ 35.htm
Sumber Foto-Foto diatas dari Internet dan baliwww.com dan Widnyana Sudibya.

About goeswid

saya orang klungkung yang selalu ingin mencoba dan mencoba untuk mengisi diri, namun tetap masih ketinggalannnnnnn

Comments are closed.